Photo Lukisan

LGJ’45 XXI SMAN 1 Ciamis

BATU KARAS

Setelah lelah melayari malam
Biduk-biduk berlabuh ke tepian hari
Di birunya samudera
Kilauan cahaya perak memantul di matamu
Membangkitkan gairah ombak yang terus bergerak
Menciumi mulutmu yang menganga di tebing karang
Gelisahku tiada henti diterpa angin laut
Di akar-akar ketapang duduk mematung
Mengamati pepohonan jaksi, pandan dan beringin
Mengunyah waktu di penghujung tahun
Di riuhnya orang-orang berpesta
Biduk-biduk melaju ke tengah lautan

1998.

MA’RIFAT

Begitu hijau bukit jiwaku
Di antara gunung-gunung kehidupan yang tinggi
Tapi tak ada yang mampu melebihi kesejukan Yang Kuasa
Nuraniku masih dalam batas-batas pagar bambu
Dalam suatu saat akan digerogoti oleh rayap-rayap usia
Tapi aku pun menyadari
Dunia berputar tak pernah berhenti
Mengurai benang-benang waktu
Yang harus kurajut dengan kesetiaan
Dengan penuh kekhusukan

Waktu pun terus berlalu
Tapak-tapak kakiku seakan tertinggal jauh
Perjalanan terus kupahami
Seiring denyut nadi yang bergelora
Memburu kehidupan yang baru

1997.

SENJA HARI

Angin meluruhkan duka
Sepanjang jalan
Tatapanku gelisah
Perjalanan masih jauh
Rumput mengering, tanah tandus
Mengerang dalam retakan sunyi
Dinding-dinding penuh lukisan
Membisu dalam hatiku

Kupapah luka-lukamu
Pelita wajahmu meleleh dalam kepedihan
Dingin, berdebar jiwa ini
Kugenggam kehampaan lentik jemarimu
Terlepas di antara senja yang memerah
Tak ada kata yang terlahir dari rahim bibirmu
Rambutmu telah mengurai hati ini
Bayang-bayangmu ditelan malam

1997.

ESOK MENTARI BERSINAR LAGI

Jangan cemaskan senja yang pulang
Atau daun-daun hati kering berguguran
Dari pohon-pohon kehidupan
Namun malam telah menjadi rahasia
Dan kesunyian menyetubuhi kesenjangan
Yang kian subur di jiwa bumiku
Kutelanjangi kegelisahan ini
Dalam detak jantung yang terus dilumuri
Keringat dingin

Malam semakin menjauh
Perjalanan telah kupahami
Dalam kata-kata antara hitam dan putih
Semua adalah saksi debu-debu jalan
Yang kuraih di kaki hari-hari
Kelelahan meratapi kepenatan dalam tanya
Perjalanan masih membentang
Kurebahkan malam dalam tidur lelap
Karena esok mentari bersinar lagi

1997.

DIALOG SEBELUM HUJAN

Sebaiknya bakar saja
Tungku kata-kataku ini
Karena hujan terlanjur jatuh
Sebelum malam menjauh
Dan biarkan sisa potongan gerimis
Menyetubuhi ranting-ranting pohon jiwaku
Yang kini remuk berantakan disapu angin
Kita hanyalah sebuah nama
Hanyalah sebuah nama
Sebuah nama yang terlahir
Dari rahim kesunyian bumi
Terukir di tiang-tiang kekuasaan yang angkuh
Yang telah digariskan waktu

1998.

CIPULARANG

CIPULARANG 1

Bumi yang merdeka

Tiba-tiba kini teraniaya

Menjadi sepotong jalan nasib

Membelah di antara dua bukit

Pohon-pohon berderet meninggi

Pucuk-pucuk teh letih melambai

Dan sempat terhirup kesejukan

Sebelum ajal tiba menjemputnya

Tiang-tiang beton

Aspal beton

Seperti ular raksasa hitam

Berbaring tiada berdaya

Dikubur kekuasaan

Digilas roda kehidupan yang menggila

Mengerang dalam gemuruh angin

Kian lepas jauh membentang

 

Oktober 2005.

 

 

CIPULARANG 2

Kugadaikan harga diri tanah ini

Dari bukit satu ke bukit lainnya

Yang terbentang hanyalah selintas kenangan

Antara sekerat brownies dari Amanda

Dan sebungkus rokok di dasboard hitam

Mencoba mengusik cita rasa sebotol air

Saat hari pertama kucumbui ramadhan

Seolah ingin mencekik urat-urat leherku

Perjalanan masih sangatlah jauh

Bau rumput kering begitu menyengat

Membuat mobil-mobil itu saling berkejaran

Seperti peluru mengejar kaum teroris

Selalu diliputi gelisah dan sepertinya tiada akhir

Yang hendak menghimpit sisa-sisa nafasku

Pucuk-pucuk teh terus saja memberikan isyarat

Sambil menari melerai lapar dan dahaga hari

 

 

Oktoner 2005.

CINEAM

Ketika kita menuju gairah malam

Di jantung kota yang cukup senyap ini

Kutemukan lampu-lampu temaram jalanan

Yang menuntunku ke dalam ketenangan

Kutembus gemercik gerimis kampung sunyi

Lalu kucium basahnya aroma alam yang ranum

Wanginya menusuk-nusuk sisa sayatan luka

Dan membiarkan rasa gelisah itu kian mengusik

Debaran dada yang bergeser dari ketabahan waktu

Kureguk kehangatan secangkir teh senyummu

Melerai gejolak dahaga jiwa yang mulai liar

Mengembara ke sudut-sudut curamnya desa

Jemari yang halus membelai lembut dalam kesetiaan

Juga kemilau rambut adalah cahaya kunang-kunang

Yang terkulai letih diantara pualam buah dadamu

Dan kini tertanam biji kesucian di rumah lengang

 

Tasikmalaya, 2006.

MANONJAYA-CINEAM

Gerimis yang kian menipis itu

Tetap saja enggan untuk reda

Ketika senyap menuruni bukit malam

Mencoba menghampiri tebing basah tanah merah

Kujelajahi ribuan pohon salak sedang tapakur

Mengukur jejak usianya sepanjang perjalanan

Melintasi batas-batas takdir rel kegalauanku

Sederet ayat kenangan kembali menggoreskan jingga

Di antara nyanyian kecil binatang malam

Sepertinya tak pernah letih terus saja menggedor jantungku

Saat lampu-lampu telah dibalut dengan seulas kabut

Aku terus saja melangkah menembus rumah sunyi

Menyebut-Mu dalam cahaya gelisah bola matanya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.