DIALOG SEBELUM HUJAN

Sebaiknya bakar saja
Tungku kata-kataku ini
Karena hujan terlanjur jatuh
Sebelum malam menjauh
Dan biarkan sisa potongan gerimis
Menyetubuhi ranting-ranting pohon jiwaku
Yang kini remuk berantakan disapu angin
Kita hanyalah sebuah nama
Hanyalah sebuah nama
Sebuah nama yang terlahir
Dari rahim kesunyian bumi
Terukir di tiang-tiang kekuasaan yang angkuh
Yang telah digariskan waktu
1998.

CIPULARANG

CIPULARANG 1

Bumi yang merdeka
Tiba-tiba kini teraniaya
Menjadi sepotong jalan nasib
Membelah di antara dua bukit
Pohon-pohon berderet meninggi
Pucuk-pucuk teh letih melambai
Dan sempat terhirup kesejukan
Sebelum ajal tiba menjemputnya
Tiang-tiang beton
Aspal beton
Seperti ular raksasa hitam
Berbaring tiada berdaya
Dikubur kekuasaan
Digilas roda kehidupan yang menggila
Mengerang dalam gemuruh angin
Kian lepas jauh membentang
 

Oktober 2005.
 
 

CIPULARANG 2

Kugadaikan harga diri tanah ini
Dari bukit satu ke bukit lainnya
Yang [...]

CINEAM

Ketika kita menuju gairah malam
Di jantung kota yang cukup senyap ini
Kutemukan lampu-lampu temaram jalanan
Yang menuntunku ke dalam ketenangan
Kutembus gemercik gerimis kampung sunyi
Lalu kucium basahnya aroma alam yang ranum
Wanginya menusuk-nusuk sisa sayatan luka
Dan membiarkan rasa gelisah itu kian mengusik
Debaran dada yang bergeser dari ketabahan waktu
Kureguk kehangatan secangkir teh senyummu
Melerai gejolak dahaga jiwa yang mulai liar
Mengembara ke [...]

MANONJAYA-CINEAM

Gerimis yang kian menipis itu
Tetap saja enggan untuk reda
Ketika senyap menuruni bukit malam
Mencoba menghampiri tebing basah tanah merah
Kujelajahi ribuan pohon salak sedang tapakur
Mengukur jejak usianya sepanjang perjalanan
Melintasi batas-batas takdir rel kegalauanku
Sederet ayat kenangan kembali menggoreskan jingga
Di antara nyanyian kecil binatang malam
Sepertinya tak pernah letih terus saja menggedor jantungku
Saat lampu-lampu telah dibalut dengan seulas kabut
Aku terus [...]

MANONJAYA

Temaram lampu-lampu mesjid itu menyapa
Sejenak aku berdiri menatap anggun wajahmu
Jalanan yang basah mulai mengusik birahiku
Setelah cukup lama membeku hingga terkubur
Kesejukan rumput menghampar dan merunduk
Di bawah pepohonan begitu khusuk mengaji
Mengeja hasrat kalbu yang dirundung kerinduan
Tipis senyummu kembali menggerai ayat-ayat sunyi
Yang kini membina gelisah malam menjelang tenggelam
Di antara pecahan gerimis yang juga tak mau reda
 
 
Tasikmalaya, 2006.

SAAT SUNYI

Saat sunyi menjerat langkah kabut malam
Kulemparkan sekepal keyakinan hidup ini
Ke langit yang sedang melayari cahaya temaram
Suara alam pecah menghampiri kegagapan
Setelah dingin membekukan angan-angan
Kubiarkan gairah tsunami Pangandaran
Tetap membangkang menghancurkan berhala
Dari sisa-sisa waktu keangkuhan zaman
Di antara bukit senyap dan pepohonan berbaring
Menyelimuti separuh raga bumi dari cuaca gelisah
Menawarkan ketenangan embun menjelang dinihari
Sepertinya tidak akan berhenti dan menyerah lagi
Membawa [...]

DI UJUNG WAKTU

Pelan-pelan sunyi itu menyergap malam
Segerombolan awan gelap mulai gentayangan
Menggiring irama nyanyian binatang malam
Dengan sebotol anggur kuteguk keyakinan
Yang telah lama dibuang dan dihancurkan
Kini aku kembali datang untuk menjemputmu
Setelah bertahun-tahun menakar keringat kebijakkan
Lewat lembaran-lembaran kertas ketidakpastian
Maka hanguslah dibakar keangkuhan usia
Hanya demi waktu yang rela memapah ketabahan
Pelita cinta itu terus saja terang membentang
Memancar sepanjang pertemuan sajadah malam
 
 
Ciamis, 2006.

KETEP PASS

Kutatap sunyi Merapi tanpa batas kata
Udara sejuk mulai menyulap tengah hari
Di antara bukit-bukit curam dadamu
Yang memberi warna kehijau-hijauan
Kebiru-biruan serta kadang mirip seulas asap
Aku hanya bisa termangu saat memahamimu
Dari satu gazebo ke gazebo yang lainnya
Dan cukup sedikit menuliskan riwayatmu
Di atas batu dan tanah damai yang sembab
Dikelilingi pedagang kopi dan jagung bakar
Kubiarkan wangi belerang menghadang
Serta rasa asing [...]

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!