Ketika kita menuju gairah malam
Di jantung kota yang cukup senyap ini
Kutemukan lampu-lampu temaram jalanan
Yang menuntunku ke dalam ketenangan
Kutembus gemercik gerimis kampung sunyi
Lalu kucium basahnya aroma alam yang ranum
Wanginya menusuk-nusuk sisa sayatan luka
Dan membiarkan rasa gelisah itu kian mengusik
Debaran dada yang bergeser dari ketabahan waktu
Kureguk kehangatan secangkir teh senyummu
Melerai gejolak dahaga jiwa yang mulai liar
Mengembara ke sudut-sudut curamnya desa
Jemari yang halus membelai lembut dalam kesetiaan
Juga kemilau rambut adalah cahaya kunang-kunang
Yang terkulai letih diantara pualam buah dadamu
Dan kini tertanam biji kesucian di rumah lengang
Tasikmalaya, 2006.
DIarsipkan di bawah: Puisi