CIPULARANG 1
Bumi yang merdeka
Tiba-tiba kini teraniaya
Menjadi sepotong jalan nasib
Membelah di antara dua bukit
Pohon-pohon berderet meninggi
Pucuk-pucuk teh letih melambai
Dan sempat terhirup kesejukan
Sebelum ajal tiba menjemputnya
Tiang-tiang beton
Aspal beton
Seperti ular raksasa hitam
Berbaring tiada berdaya
Dikubur kekuasaan
Digilas roda kehidupan yang menggila
Mengerang dalam gemuruh angin
Kian lepas jauh membentang
Oktober 2005.
CIPULARANG 2
Kugadaikan harga diri tanah ini
Dari bukit satu ke bukit lainnya
Yang terbentang hanyalah selintas kenangan
Antara sekerat brownies dari Amanda
Dan sebungkus rokok di dasboard hitam
Mencoba mengusik cita rasa sebotol air
Saat hari pertama kucumbui ramadhan
Seolah ingin mencekik urat-urat leherku
Perjalanan masih sangatlah jauh
Bau rumput kering begitu menyengat
Membuat mobil-mobil itu saling berkejaran
Seperti peluru mengejar kaum teroris
Selalu diliputi gelisah dan sepertinya tiada akhir
Yang hendak menghimpit sisa-sisa nafasku
Pucuk-pucuk teh terus saja memberikan isyarat
Sambil menari melerai lapar dan dahaga hari
Oktoner 2005.
DIarsipkan di bawah: Puisi