Gerimis yang kian menipis itu
Tetap saja enggan untuk reda
Ketika senyap menuruni bukit malam
Mencoba menghampiri tebing basah tanah merah
Kujelajahi ribuan pohon salak sedang tapakur
Mengukur jejak usianya sepanjang perjalanan
Melintasi batas-batas takdir rel kegalauanku
Sederet ayat kenangan kembali menggoreskan jingga
Di antara nyanyian kecil binatang malam
Sepertinya tak pernah letih terus saja menggedor jantungku
Saat lampu-lampu telah dibalut dengan seulas kabut
Aku terus saja melangkah menembus rumah sunyi
Menyebut-Mu dalam cahaya gelisah bola matanya
DIarsipkan di bawah: Puisi