BATU KARAS

Setelah lelah melayari malam
Biduk-biduk berlabuh ke tepian hari
Di birunya samudera
Kilauan cahaya perak memantul di matamu
Membangkitkan gairah ombak yang terus bergerak
Menciumi mulutmu yang menganga di tebing karang
Gelisahku tiada henti diterpa angin laut
Di akar-akar ketapang duduk mematung
Mengamati pepohonan jaksi, pandan dan beringin
Mengunyah waktu di penghujung tahun
Di riuhnya orang-orang berpesta
Biduk-biduk melaju ke tengah lautan
1998.

MA’RIFAT

Begitu hijau bukit jiwaku
Di antara gunung-gunung kehidupan yang tinggi
Tapi tak ada yang mampu melebihi kesejukan Yang Kuasa
Nuraniku masih dalam batas-batas pagar bambu
Dalam suatu saat akan digerogoti oleh rayap-rayap usia
Tapi aku pun menyadari
Dunia berputar tak pernah berhenti
Mengurai benang-benang waktu
Yang harus kurajut dengan kesetiaan
Dengan penuh kekhusukan
Waktu pun terus berlalu
Tapak-tapak kakiku seakan tertinggal jauh
Perjalanan terus kupahami
Seiring denyut nadi [...]

SENJA HARI

Angin meluruhkan duka
Sepanjang jalan
Tatapanku gelisah
Perjalanan masih jauh
Rumput mengering, tanah tandus
Mengerang dalam retakan sunyi
Dinding-dinding penuh lukisan
Membisu dalam hatiku
Kupapah luka-lukamu
Pelita wajahmu meleleh dalam kepedihan
Dingin, berdebar jiwa ini
Kugenggam kehampaan lentik jemarimu
Terlepas di antara senja yang memerah
Tak ada kata yang terlahir dari rahim bibirmu
Rambutmu telah mengurai hati ini
Bayang-bayangmu ditelan malam
1997.

ESOK MENTARI BERSINAR LAGI

Jangan cemaskan senja yang pulang
Atau daun-daun hati kering berguguran
Dari pohon-pohon kehidupan
Namun malam telah menjadi rahasia
Dan kesunyian menyetubuhi kesenjangan
Yang kian subur di jiwa bumiku
Kutelanjangi kegelisahan ini
Dalam detak jantung yang terus dilumuri
Keringat dingin
Malam semakin menjauh
Perjalanan telah kupahami
Dalam kata-kata antara hitam dan putih
Semua adalah saksi debu-debu jalan
Yang kuraih di kaki hari-hari
Kelelahan meratapi kepenatan dalam tanya
Perjalanan masih membentang
Kurebahkan malam [...]

DIALOG SEBELUM HUJAN

Sebaiknya bakar saja
Tungku kata-kataku ini
Karena hujan terlanjur jatuh
Sebelum malam menjauh
Dan biarkan sisa potongan gerimis
Menyetubuhi ranting-ranting pohon jiwaku
Yang kini remuk berantakan disapu angin
Kita hanyalah sebuah nama
Hanyalah sebuah nama
Sebuah nama yang terlahir
Dari rahim kesunyian bumi
Terukir di tiang-tiang kekuasaan yang angkuh
Yang telah digariskan waktu
1998.

CIPULARANG

CIPULARANG 1

Bumi yang merdeka
Tiba-tiba kini teraniaya
Menjadi sepotong jalan nasib
Membelah di antara dua bukit
Pohon-pohon berderet meninggi
Pucuk-pucuk teh letih melambai
Dan sempat terhirup kesejukan
Sebelum ajal tiba menjemputnya
Tiang-tiang beton
Aspal beton
Seperti ular raksasa hitam
Berbaring tiada berdaya
Dikubur kekuasaan
Digilas roda kehidupan yang menggila
Mengerang dalam gemuruh angin
Kian lepas jauh membentang
 

Oktober 2005.
 
 

CIPULARANG 2

Kugadaikan harga diri tanah ini
Dari bukit satu ke bukit lainnya
Yang [...]

CINEAM

Ketika kita menuju gairah malam
Di jantung kota yang cukup senyap ini
Kutemukan lampu-lampu temaram jalanan
Yang menuntunku ke dalam ketenangan
Kutembus gemercik gerimis kampung sunyi
Lalu kucium basahnya aroma alam yang ranum
Wanginya menusuk-nusuk sisa sayatan luka
Dan membiarkan rasa gelisah itu kian mengusik
Debaran dada yang bergeser dari ketabahan waktu
Kureguk kehangatan secangkir teh senyummu
Melerai gejolak dahaga jiwa yang mulai liar
Mengembara ke [...]

MANONJAYA-CINEAM

Gerimis yang kian menipis itu
Tetap saja enggan untuk reda
Ketika senyap menuruni bukit malam
Mencoba menghampiri tebing basah tanah merah
Kujelajahi ribuan pohon salak sedang tapakur
Mengukur jejak usianya sepanjang perjalanan
Melintasi batas-batas takdir rel kegalauanku
Sederet ayat kenangan kembali menggoreskan jingga
Di antara nyanyian kecil binatang malam
Sepertinya tak pernah letih terus saja menggedor jantungku
Saat lampu-lampu telah dibalut dengan seulas kabut
Aku terus [...]

MANONJAYA

Temaram lampu-lampu mesjid itu menyapa
Sejenak aku berdiri menatap anggun wajahmu
Jalanan yang basah mulai mengusik birahiku
Setelah cukup lama membeku hingga terkubur
Kesejukan rumput menghampar dan merunduk
Di bawah pepohonan begitu khusuk mengaji
Mengeja hasrat kalbu yang dirundung kerinduan
Tipis senyummu kembali menggerai ayat-ayat sunyi
Yang kini membina gelisah malam menjelang tenggelam
Di antara pecahan gerimis yang juga tak mau reda
 
 
Tasikmalaya, 2006.

SAAT SUNYI

Saat sunyi menjerat langkah kabut malam
Kulemparkan sekepal keyakinan hidup ini
Ke langit yang sedang melayari cahaya temaram
Suara alam pecah menghampiri kegagapan
Setelah dingin membekukan angan-angan
Kubiarkan gairah tsunami Pangandaran
Tetap membangkang menghancurkan berhala
Dari sisa-sisa waktu keangkuhan zaman
Di antara bukit senyap dan pepohonan berbaring
Menyelimuti separuh raga bumi dari cuaca gelisah
Menawarkan ketenangan embun menjelang dinihari
Sepertinya tidak akan berhenti dan menyerah lagi
Membawa [...]