Posted on Januari 23, 2008 by dudungpurnama
Temaram lampu-lampu mesjid itu menyapa
Sejenak aku berdiri menatap anggun wajahmu
Jalanan yang basah mulai mengusik birahiku
Setelah cukup lama membeku hingga terkubur
Kesejukan rumput menghampar dan merunduk
Di bawah pepohonan begitu khusuk mengaji
Mengeja hasrat kalbu yang dirundung kerinduan
Tipis senyummu kembali menggerai ayat-ayat sunyi
Yang kini membina gelisah malam menjelang tenggelam
Di antara pecahan gerimis yang juga tak mau reda
Tasikmalaya, 2006.
DIarsipkan di bawah: Puisi | Leave a Comment »
Posted on Januari 23, 2008 by dudungpurnama
Saat sunyi menjerat langkah kabut malam
Kulemparkan sekepal keyakinan hidup ini
Ke langit yang sedang melayari cahaya temaram
Suara alam pecah menghampiri kegagapan
Setelah dingin membekukan angan-angan
Kubiarkan gairah tsunami Pangandaran
Tetap membangkang menghancurkan berhala
Dari sisa-sisa waktu keangkuhan zaman
Di antara bukit senyap dan pepohonan berbaring
Menyelimuti separuh raga bumi dari cuaca gelisah
Menawarkan ketenangan embun menjelang dinihari
Sepertinya tidak akan berhenti dan menyerah lagi
Membawa aura keheningan tanpa perdebatan
Ciamis, 2006.
DIarsipkan di bawah: Puisi | 2 Komentar »
Posted on Januari 23, 2008 by dudungpurnama
Pelan-pelan sunyi itu menyergap malam
Segerombolan awan gelap mulai gentayangan
Menggiring irama nyanyian binatang malam
Dengan sebotol anggur kuteguk keyakinan
Yang telah lama dibuang dan dihancurkan
Kini aku kembali datang untuk menjemputmu
Setelah bertahun-tahun menakar keringat kebijakkan
Lewat lembaran-lembaran kertas ketidakpastian
Maka hanguslah dibakar keangkuhan usia
Hanya demi waktu yang rela memapah ketabahan
Pelita cinta itu terus saja terang membentang
Memancar sepanjang pertemuan sajadah malam
Ciamis, 2006.
DIarsipkan di bawah: Puisi | Leave a Comment »
Posted on Januari 23, 2008 by dudungpurnama
Kutatap sunyi Merapi tanpa batas kata
Udara sejuk mulai menyulap tengah hari
Di antara bukit-bukit curam dadamu
Yang memberi warna kehijau-hijauan
Kebiru-biruan serta kadang mirip seulas asap
Aku hanya bisa termangu saat memahamimu
Dari satu gazebo ke gazebo yang lainnya
Dan cukup sedikit menuliskan riwayatmu
Di atas batu dan tanah damai yang sembab
Dikelilingi pedagang kopi dan jagung bakar
Kubiarkan wangi belerang menghadang
Serta rasa asing itu mulai mengembara
Menjelang merah senja kembali menjemput
Merbabu sekaligus mengusap wajah Merapi
Yang akan pulang ke pangkuan lembah pertiwi
Magelang, 13 Maret 2006.
DIarsipkan di bawah: Puisi | Leave a Comment »
Posted on Januari 23, 2008 by dudungpurnama
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
DIarsipkan di bawah: Tak Berkategori | 1 Komentar »