MANONJAYA

Temaram lampu-lampu mesjid itu menyapa

Sejenak aku berdiri menatap anggun wajahmu

Jalanan yang basah mulai mengusik birahiku

Setelah cukup lama membeku hingga terkubur

Kesejukan rumput menghampar dan merunduk

Di bawah pepohonan begitu khusuk mengaji

Mengeja hasrat kalbu yang dirundung kerinduan

Tipis senyummu kembali menggerai ayat-ayat sunyi

Yang kini membina gelisah malam menjelang tenggelam

Di antara pecahan gerimis yang juga tak mau reda

 

 

Tasikmalaya, 2006.

SAAT SUNYI

Saat sunyi menjerat langkah kabut malam

Kulemparkan sekepal keyakinan hidup ini

Ke langit yang sedang melayari cahaya temaram

Suara alam pecah menghampiri kegagapan

Setelah dingin membekukan angan-angan

Kubiarkan gairah tsunami Pangandaran

Tetap membangkang menghancurkan berhala

Dari sisa-sisa waktu keangkuhan zaman

Di antara bukit senyap dan pepohonan berbaring

Menyelimuti separuh raga bumi dari cuaca gelisah

Menawarkan ketenangan embun menjelang dinihari

Sepertinya tidak akan berhenti dan menyerah lagi

Membawa aura keheningan tanpa perdebatan

 

 

Ciamis, 2006.

DI UJUNG WAKTU

Pelan-pelan sunyi itu menyergap malam

Segerombolan awan gelap mulai gentayangan

Menggiring irama nyanyian binatang malam

Dengan sebotol anggur kuteguk keyakinan

Yang telah lama dibuang dan dihancurkan

Kini aku kembali datang untuk menjemputmu

Setelah bertahun-tahun menakar keringat kebijakkan

Lewat lembaran-lembaran kertas ketidakpastian

Maka hanguslah dibakar keangkuhan usia

Hanya demi waktu yang rela memapah ketabahan

Pelita cinta itu terus saja terang membentang

Memancar sepanjang pertemuan sajadah malam

 

 

Ciamis, 2006.

KETEP PASS

Kutatap sunyi Merapi tanpa batas kata

Udara sejuk mulai menyulap tengah hari

Di antara bukit-bukit curam dadamu

Yang memberi warna kehijau-hijauan

Kebiru-biruan serta kadang mirip seulas asap

Aku hanya bisa termangu saat memahamimu

Dari satu gazebo ke gazebo yang lainnya

Dan cukup sedikit menuliskan riwayatmu

Di atas batu dan tanah damai yang sembab

Dikelilingi pedagang kopi dan jagung bakar

Kubiarkan wangi belerang menghadang

Serta rasa asing itu mulai mengembara

Menjelang merah senja kembali menjemput

Merbabu sekaligus mengusap wajah Merapi

Yang akan pulang ke pangkuan lembah pertiwi

 

 

Magelang, 13 Maret 2006.

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!